Tuesday, September 18, 2012

Rusli Amran, Penyelamat Sejarah Ranah Minang (1922-1996)


[Image: rusli+amran.jpg]

Jika kita membaca sebuah tulisan tentang sejarah Ranah Minang, terutama pada
jaman kolonial, maka tidak bisa tidak tulisan itu kalau dirunut
sumbernya hampir pasti akan sampai ke salah satu karya pak Rusli Amran.
Tak peduli apakah tulisan itu ditulis oleh seorang profesor ataukah oleh
seorang rakyat badarai. Begitu hebatnya pengaruh sosok ini dalam sejarah per-Minang-an.

Namun demikian, tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya Rusli
Amran. Sebagian orang menganggapnya sejarawan, tapi sebenarnya dia
bukanlah "orang sejarah".

Berawal dari sebuah buku "ajaib" nan kontroversial terbitan tahun 1963 (sekarang sudah dicetak ulang) berjudul “Tuanku Rao: Teror Agama Islam Hambali di Tanah
Batak (1816-1833)
” karya Mangaradja Onggang
Parlindungan yang menulis:

“Brothers from Minang sangat parah handicapped, karena
kepertjajaan mereka akan mythos2 tanpa angka2 tahunan. Mythos Iskandar
Zulkarnain Dynasty, Mythos Menang Kerbau, Mythos Bundo Kanduang, Tambo
Minangkabau, dlsb., semuanya 100% ditelan oleh Brothers from Minang. Tanpa
mereka sanggup selecting-out 2% facta2 sejarah dan kicking-out 98% mythologic
ornamentations dari mythos2 itu. Tanpa mereka sedikit pun usaha, mentjarikan
angka2 tahunan untuk menghentikan big confusions” (679)
."

Dengan segala gaya penulisannya yang unik dan sedikit aneh (menurut saya
malah itu yang membuat buku ini menarik, terlepas dari kebenaran
isinya), harus diakui bahwa yang ditulis M.O. Parlindungan itu
mengandung kebenaran. Kekurangan orang Minang yang selama ini tidak
berorientasi ke belakang, tidak acuh dengan sejarah lamanya, dan tidak
pula
memiliki aksara sendiri, telah menyebabkan bukan saja sejarah yang
dulu-dulu
tertimbun oleh masa, sejarah yang kemarin saja pun sudah kabur. Coba
saja, keluarga Minang mana yang punya ranji lengkap sampai ke nama nenek
moyangnya? Barangkali cuma sampai kakek atau ayah dari kakek.

Brothers from Minang pun bereaksi atas buku tersebut. Dimulai pada 1970, terbit buku "Sedjarah Minangkabau"
yang diusahakan oleh M.D. Mansoer (et al), dalam rangka menyongsong
Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau yang diadakan di Batusangkar.
Buku ini memuat tanggal-tanggal dan data-data referensi yang otentik,
serta mitos dan sejarah politik Sumatera Barat. Uniknya, buku tersebut
juga berisi ucapan selamat dari Parlindungan sendiri sebagai kata
pengantarnya. Selanjutnya tahun 1974 HAMKA menantang langsung buku
Parlindungan dengan menerbitkan buku berjudul "Tuanku Rao: Antara Khayal dan Fakta".

[Image: hingga+plakat+panjang+1981.jpg]Tapi dari semuanya tak ada yang melebihi sebuah buku karya pertama dari seseorang yang bernama Rusli Amran berjudul "Sumatera Barat hingga Plakat Panjang"
yang diterbitkan oleh Sinar Harapan pada tahun 1981. Buku ini
merupakan hasil Rusli Amran menghabiskan banyak waktu antara tahun
1970-1980 untuk
menggali data dan nara sumber di Belanda dan Indonesia, dengan
memfokuskan
perhatian pada laporan dan penelitian yang tersedia pada Jurnal Kolonial
Belanda pada abad ke 19. Buku ini merupakan sejarah lengkap termasuk
juga
laporan arkeologis pada abad ke 13. Rusli Amran menitikberatkan
pada interaksi Minangkabau dengan Inggris dan Belanda, sampai pada
perang Padri
dan Plakat Panjang yang merupakan awal dari pendudukan Belanda di
Sumatera
Barat. Buku ini ditulis dengan sangat cermat dalam melakukan penelitian
akan
tetapi dengan gaya penulisannya yang tidak formal. Contohnya bab tentang
masuknya bangsa Eropa diberi judul " Masuknya si Bule". Karenanya tidak
heran jika buku dengan hampir 700 halaman lengkap dengan referensi
sumber, reproduksi dari
arsip dan dokumen yang terkait beserta sumber asli ini, di kemudian hari
menjadi referensi utama para penulis sejarah Ranah Minang.

Kembali ke pertanyaan awal: Siapa Rusli Amran?

Rusli Amran bukanlah seorang yang berlatar belakang pendidikan sejarah.
Ia adalah seorang pensiunan diplomat dan wartawan. Lahir di Padang tahun
1922 dan sempat mengenyam
sistem pendidikan Belanda, Jepang dan Indonesia. Setamat AMS Sastra
Barat di Jogjakarta sebelum Perang Dunia II, ia melanjutkan ke perguruan
tinggi di Jakarta, Amsterdam dan terakhir di Praha. Selama masa
revolusi pemuda Rusli
Amran bersama Sidi Muhammad Sjaaf dan Suraedi Tahsin menerbitkan surat
kabar Berita Indonesia pada 6 September 1945 dan merupakan koran pertama
setelah Indonesia merdeka. Pada awal tahun 1950
ia bergabung dalam birokrasi pemerintah, pertama pada Departemen
Pertahanan dan
kemudian Departemen Keuangan hingga akhirnya pada Departemen Luar
Negeri.
Selama puluhan tahun Rusli Amran mewakili Republik Indonesia di Moskow
dan
Paris.
Ketika Rusli Amran pensiun ditahun 1972, ia mendedikasikan dirinya pada
proyek
sejarah berskala besar yaitu menulis sejarah Sumatera Barat dalam bentuk
yang
bisa dimengerti dan dijangkau oleh para pelajar Indonesia.

Rusli Amran menghasilkan lima buah buku. Dengan kehadiran buku-buku ini makin tersibaklah awan gelap yang
menyelubungi sejarah Sumatera Barat.
Dalam kaitan ini, makin terasa betapa upaya yang dilakukan Rusli selama
bertahun-tahun, dan dengan semangat akademis yang tinggi, menjalin kembali
untaian sejarah yang telah lepas-lepas itu, patut kita hargai. Terlebih lagi,
buku-bukunya tidaklah ditulis dengan bahasa yang kering dan membosankan, tapi
sebaliknya, bahkan kocak. Memang, sebagaimana dimaksudkan Rusli, seri buku ini
tidak dimaksudkan sebagai buku teks dalam artian yang konvensional, tapi sebuah
buku sejarah yang ditulis secara populer, dengan gaya bercerita, agar dapat
dibaca kalangan luas, terutama oleh generasi muda. Latar belakang Rusli sebagai
"orang lama", yang menguasai betul bahasa sumber (bahasa Belanda),
sangat membantu. Selain itu, ketajaman pena Rusli, pendiri dan
pemimpin harian Berita Indonesia, sebagai wartawan di awal Kemerdekaan,
ditambah lagi dengan kejelian matanya sebagai diplomat dalam melihat sesuatu di
balik yang tersirat, sehingga ia bukan saja berusaha membeberkan cerita sejarah
dengan cara yang hidup dan mengasyikkan, tapi sekaligus juga memberi arti
plot-plot sejarah itu secara berkesinambungan. Cara Rusli melihat
peristiwa-peristiwa sejarah itu adalah dengan kaca mata bangsa sendiri, walau
bahan yang dipakai hampir seluruhnya diramu dari sumber-sumber Belanda.

[Image: plakat+panjang+1985.jpg]Buku keduanya adalah "Sumatera Barat Plakat Panjang"
adalah buku lanjutan dari buku yang pertama yang disertai juga dengan
terjemahan dari sumber-sumber Belanda yang diambil dari jurnal Belanda
dan muncul dalam apendik. Kedua buku ini membuat sumber-sumber dalam
bahasa Belanda yang secara bahasa dan tempat sulit terjangkau menjadi
mudah terjangkau bagi para pelajar Indonesia yang berminat mempelajari
Sejarah Sumatera Barat.

[Image: pdg+riwayatmu+dulu+1988.jpg]Buku ketiga dari Rusli Amran adalah "Sumatera Barat: Pemberontakan Anti Pajak tahun 1908"
yang menjelaskan mengenai sistem tanam paksa kopi, eksploitasi kolonial
pada abad ke 19 dengan penelaahan mengenai reaksi atas pajak.

Buku ke empat "Padang Riwayatmu Dulu" didedikasikan pada kota
kelahirannya Padang yang ditulis masih dengan gaya informal dan berisi
campuran antara arsip-arsip dan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi
pada komunitas Eropa dan Jawa. Rusli Amran juga memasukan
koleksi-koleksi foto reproduksi yang mengesankan .

[Image: cerita+lama.jpg]
Buku terakhir dari Rusli Amran diterbitkan setelah beliau wafat pada tahun 1996 dalam bentuk kumpulan esai yang berjudul "Cerita Lama dalam Lembaran Sejarah".
Kumpulan esai ini merupakan penemuan yang menakjubkan pada tokoh-tokoh
dan momen yang tidak biasa di Sumatera Barat yang menyenangkan untuk
dibaca santai.

Istri beliau selanjutnya mendirikan Yayasan Rusli Amran di Jakarta
sebagai tempat belajar dan pusat dokumentasi koleksi dan arsip beliau.

Namun menurut Jeffrey Hadler, Profesor di Departmen of South and South East Asian Studies University of California Berkeley,
yang lebih penting dari tulisan Rusli Amran adalah kebaikan hati beliau
selama melakukan penelitian terhadap arsip-arsip tersebut dimana beliau
menggandakan setiap artikel dan manuskrip yang ada mengenai Sumatera
Barat yang sangat banyak jumlahnya. Rusli Amran menggandakan
dokumen-dokumen tersebut dan menyimpannya dalam tiga lokasi yang berbeda
di Sumatera Barat yaitu: Perpustakaan Bagian Literatur Universitas
Andalas di Limau Manis, Ruang Baca Gedung Abdullah Kamil di Padang dan
Pusat Dokumentasi dan Inventori Budaya Minangkabau di Padang Panjang.
Melalui usaha Rusli Amran ini pelajar yang berminat pada sejarah
Sumatera Barat dapat menjangkau buku yang menyediakan gambaran yang
jelasi dan tanpa pretensi mengenai masa kolonial. Terlebih lagi mereka
dapat menjangkau sumber yang asli tanpa harus pergi ke Belanda maupun
Jakarta.

Untuk yang terakhir ini iyo ambo terperangah. Ternyata semua
dokumen itu ada di Sumatera Barat dalam bentuk fotocopian! Tidak begitu
jelas apakah dokumen-dokumen itu sudah dirubah ke format digital apa
tidak pada saat ini. Karena secara lazimnya, dokumen fotocopian tidak
akan bertahan lama. Kalau belum, sudah saatnya para sejarawan -terutama
dari Unand karena punya akses langsung- mengambil tindakan cepat untuk
menyelamatkan dokumen-dokumen berharga tersebut dengan cara
mendigitalisasinya.

Selanjutnya kita berharap ada penerbit yang bersedia menerbitkan kembali
buku-buku karya Rusli Amran ini. Membaca buku-buku Rusli Amran dapat
menimbulkan kebanggaan tersendiri terhadap identitas ke-Minang-an kita.
Anda penerbit, tidak usah takut bukunya ndak laku. Paling tidak para
peminat sejarah yang menjadi pembaca blog ini akan antri membeli buku
anda. Ambo langsung pre-order kelimanya...hehehe...

No comments:

Post a Comment